Sabtu, 04 Mei 2024

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yang aku rasakan mendadak di siang ini.  Selain sakit yang kurasakan, aku mulai merasakan kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh saat berdiri apalagi dibawa berjalan, tertatih perlahan bahkan keluar keringat dingin dan ada ketidaknyamanan saat bergerak, Yaa Alloh, mengapa saat sehat aku menganggap bahwa bangun dari duduk, bahwa duduk bersimpuh, bahwa berdiri dan berjalan itu sesuatu yang biasa saja ?

Sungguh pembelajaran yang luar biasa yang kudapat diusia setua ini, betapa sedikitnya rasa syukur yang aku miliki padahal betapa banyak nikmat-nikmat yang sudah Alloh berikan untukku, astagfirulahaladziim, ampuni aku Yaa Rabb.

Hari itu aku dijadwalkan untuk sessi diskusi di sebuah lembaga sekolah yang cukup jauh jaraknya dari tempat tinggalku, kira-kira 2 jam perjalanan untuk sampai disana.  Entah karena aku terlalu terburu-buru saat akan turun dari mobil sehingga saat kakiku menjejak tiba-tiba kaku dan sakit saat akan digunakan untuk melangkah atau mungkin ada otot yang terkilir ach aku tidak yakin apa sebabnya, yang aku rasakan aku diserang rasa panik, berdiri di antara mobil- mobil yg terparkir tidak bisa melangkahkan kaki, aku bingung, sakit dan sedih.

Selang beberapa menit akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta tolong seorang mbak yang baik hati untuk membantu memapahku ke tepi mencari area duduk sejenak untuk menenangkan diri, dan berpikir apa yang harus aku lakukan?  aku sempat terpikir untuk kembali saja ke rumah namun aku juga teringat janji yang sudah kubuat dan membayangkan beberapa yang sudah hadir akan kecewa jika aku membatalkan hadir, akhirnya aku memutuskan untuk memberi kabar terlebih dahulu bahwa kemungkinannya akan terlambat beberapa menit karena kondisi yang diluar rencana.

Setelah 30 menit akhirnya aku memaksakan diri setengah menyeret kakiku yang sakit berjalan menuju terminal untuk melanjutkan perjalanan dengan bis berikutya, yang biasanya begitu mudah kulakukan berjalan  dengan kecepatan kaki tanpa berpikir, kini ?.. ach, rasanya 200 meter itu rasanya sangat jauuh.  dengan peluh mengucur aku pun bisa duduk di dalam bis, sambil meringis memegang dan mengusap-usap lututku yang sakit, selama ini aku tidak pernah berpikir akan sesulit ini saat nikmat sehat lutut dikurangi,  Astagfirullhaladziim, ampuni hamba yaa Alloh, aku sangat kurang bersyukur selama ini.

Hampir sepekan aku merasakan nyeri di lututku, perlahan mulai berkurang sakitnya meskipun belum kembali pulih seutuhnya, namun yang terjadi dalam diriku cukup banyak setelah peristiwa ini, aku mulai mengingat-ngingat saat kapan saja aku begitu terbantu dengan sehatnya lututku dan alhasil aku malah jadi banyak penyesalan, karena akhirnya menyadari ternyata selama ini yang dianggap biasa itu semua adalah nikmat dan karunia yang luar biasa, bahkan, alih-alih mempertanyakan "mengapa lututku sakit?" aku lebih memilih mensyukuri bahwa lututku yang satunya sehat, alhamdulllah.

Aku seperti diingatkan betapa sayang-Nya Alloh padaku, aku jadi punya banyak hal yang harus kusyukuri, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, alhamdulilah terimakasih Alloh, kepalaku, otakku, masih bekerja sesuai fungsinya, aku sendiri tak akan sanggup untuk sekedar menyebutkan bagian-bagiannya sekalipun, apalagi memfungsinya dengan sesempurna itu, Allohu akbar.

Alhamdulllah terimakasih Alloh, mataku masih bisa melihat, masih bisa berkedip, masih bisa mengeluarkan air mata, hidungku masih bisa menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, mulutku masih berfungsi dengan baik, tidak ada gigi yang sakit, lidahku masih merasakan banyak rasa, masih bisa berbicara dengan artikulasi yang jelas, masih bisa mengunyah makanan, telingaku masih bisa mendengar, bahkan air  masih bisa kuminum dengan normal sementara banyak yang untuk minum pun harus menggunakan alat bantu seperti selang.  Apa lagi yang kurang?

Belum lagi tangan, jantung, paru-paru, ginjal, limpa, lambung, usus besar, usus halus,  usus buntu, alat pembuangan, kaki, daging, kulit, tulang,  otot, urat syaraf, pori-pori, sel, alhamdulllah, Masya Alloh, nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Lututku masih nyeri,  namun jika mengingat kenikmatan lain yang dititipkan, rasanya malu, mestinya aku lebih memperbanyak syukurku daripada keluh kesahku.


Selasa, 30 April 2024

Kehilangan

Suasana sore yang mendung, hujan nampaknya akan segera turun..

Aku selalu merasakan sisi kesejukan yang dihadirkan seiring  gerimis, bahkan hanya hadir dalam perasaanku namun juga sejuk di pandangan menyaksikan air hujan jatuh di ujung pohon, tanaman serta dedaunan yang ikut bergerak-gerak seakan menari turunnya berkah yang turun dari langit.

Kali ini aku bukan ingin bercerita tentang hujan, aku ingin menyampaikan beberapa hal yang melintas di pikiran.  

Salah satunya tentang aktivitasku belakangan ini, entah apakah karena faktor kesibukan pekerjaan formal yang berkurang, atau karena sudah memasuki kepala 50 tahunan, entah  mana yang paling mempengaruhiku karena kuingat-ingat ketika aku masih bekerja dan usianya 40 tahunan, rasanya belum berpikir se-intens ini tentang meniti jalan.

Baiklah aku mulai dengan kerandoman yang terpikirkan, salah satunya aku mulai merasakan "Kehilangan" yang tidak benar-benar hilang, maksudnya bagaimana ? .. Jadi belum lama ini aku baru saja menikahkan putriku, setelah menikah ternyata mereka tinggal beda kabupaten jarak tempuh kira-kira satu jam, tidak terlalu jauh memang tapi artinya tidak tinggal serumah lagi denganku, aku faham selain karena anak perempuanku patuh pada suami, tempat tinggal mereka pun lebih memudahkan untuk akses ke kantor mereka, dan yang tak kalah penting adalah bahwa anak perempuanku kini bertambah anggota keluarganya, ada mertua, kakak ipar dan keponakan, ini pastinya hal baru bagi anak bungsuku, semoga dia beradaftasi dengan baik, aamiin.

Adapun yang kumaksud dengan "Kehilangan" yang tidak benar-benar hilang, dari satu peristiwa ini dari sisi seorang ibu ternyata sekarang aku bisa memahami dan merasakan yang dulu dirasakan ibuku, dulu ketika sepekan selesai resepsi pernikahanku, aku dan suamiku saat itu dengan perasaan sumringah ingin segera meninggalkan rumah orang tua walau pun waktu itu yang akan kutempati masih rumah kontrakan, namun rasa bahagia itu terlalu jelas untuk disembunyikan ach .. menyesal rasanya jika aku mengingat itu, harusnya aku menahan diri untuk bergembira andai kutahu bagaimana perasaan orang tua khusunya seorang ibu yang akan ditinggalkan anak yang telah berada dalam kandungannya sembilan bulan, beribu hari dia rawat, dia asuh dan dirawat dengan segenap jiwa raga lalu tiba saatnya pergi, ach .. ibu, maafkan aku, kini aku faham dan mengerti apa yang terjadi.

Meski saat itu aku tidak melihat tangisan ibu, tapi sudut matanya yang basah dan kilasan sedih hadir saat itu, sekali lagi, aku ingin meminta maaf pada ibu yang bahkan jasadnya pun tak bisa peluk lagi.

Sementara yang aku lakukan ?

Belum genap sehari anak perempuanku pindah ke rumah mertuanya, aku tak dapat menahan air mata yang menetes perlahan setiap kali memandang isi kamarnya, padahal hari-hari sebelumnya pun dia lebih banyak di kos-an agar lebih mudah ke kantornya, padahal biasanya pun hanya akhir pekan saja dia menempati kamarnya, tapi rasanya benar-benar berbeda.  Ada ruang kosong di sudut hatiku, aku kehilangan ..


Rabu, 20 Maret 2024

Titik temu terindah

Untuk ke sekian kalinya kuhamparkan sajadah sambil menahan kantuk, padahal air wudhu cukup dingin namun tak juga membangunkan seutuhnya!

Yaa Rabb, .. bantu aku untuk terkoneksi dengan-Mu, pintaku lirih, entah karena sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan ditengah himpitan rasa di dada yang terasa begitu penuh.  berdiri tegak menghadap kiblat sejenak kuniatkan untuk menghadap-Nya dengan "utuh" (berharap kali ini sungguh bisa khusyuk).

Kuselesaikan menghadap-Nya dengan segenap hati berharap ini menjadi moment yang seringkali hanya bisa kudengar atau hanya sekedar membaca di cerita bagaimana seseorang hamba menikmati kedekatan dengan Sang Khalik dalam ibadahnya, aku iri pada yang mengalaminya!

Tetiba dalam kejadian duduk ternyamanku, aku merasakan ada sebuah jeda, riuh di kepalaku berhenti! mulutku tertutup rapat bahkan tak sanggup meski hanya berbisik lirih, mataku.. yafss, mataku! sesuatu yang hangat meleleh di kedua pipiku, basah! aku menangis.

Lalu, perlahan aku mendengar suara di hatiku,.. terbata, mengeja, sesenggukakan..berhenti sejenak, tak ada kata-kata, hanya air mata yang semakin deras mengalir tanpa mampu kutahankan, aku menangis, terus.. menangis lagi.

"Yaa Rabb, aku datang, "..

"Hamba datang Yaa Rabb, hamba datang" .. (terus berulang dengan kalimat yang sama tanpa sanggup berpikir, untuk apa aku katakan itu) seakan aku ingin menumpahkan kerinduanku untuk bisa terhubung dengan-Nya dalam waktu yang sudah sangat lama.

Tak terpikir kalimat-kalimat panjang yang tadi ingin kusampaikan, ingin kuadukan kepada-Nya, seakan protesku kenapa begini? kenapa begitu? .. pantaskah aku seperti itu, sementara begitu merasakan momentnya datang, aku justru merasa sungguh malu.  Aku malu membawa raga yang lelah ini karena kebodohanku sendiri memilih jalan yang salah, terus menjauh dan menjauh, padahal Dia begitu dekat.  Aku malu mengatakan apapun karena tahu sesungguhnya Dia Maha Tahu!

"Yaa Rabb, kemana saja aku selama ini?".. (aku malah bertanya kepada diri sendiri, dan aku sungguh tahu jawabannya).

Dalam hening menjelang dini hari, aku memilih tidak bicara lagi tentang diri, tentang hatiku, tentang masalah, tentang ini dan tentang itu.. aku memilih diam, menjeda, menikmati saja!

Seperti mabuk kerinduan yang akhirnya tersampaikan, hanya bisa meng-eja namanya dalam hati..

"Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Alloh ...

"Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Alloh ...

"Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Alloh ...

Aku pasti sungguh ingin lagi, merindu lagi, mau lagi, kembali terus ke titik ini, semoga.


Jumat, 15 Maret 2024

Belajar Syukur dari Gerobak Subuh!

Kreeeek...krek, krek, gubraakkk, grudug...grudug, grudug!

Berulang- ulang aku mendengar gerobak melewati depan rumahku, sesekali rodanya bertabrakan dengan polisi tidur yang jaraknya dekat,  saat mataku masih menahan kantuk sambil melirik jam di dinding menunjukkan pukul 05.00, aku memang tidak sedang tidur, karena sudah bangun beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang di masjid dekat rumah.  

Kejadian ini bukan yang pertama, bahkan kalau kuingat-ingat rasanya sejak aku pindah menempati rumah di komplek ini, gerobak yang melewati depan rumah subuh hari memang sudah ada.  

Namun, pagi ini terasa berbeda! 

Aku baru saja membuka toko online dengan bermodal 300rb kurang lebih sudah bisa memiliki toko on line lengkap dengan support sistemnya tanpa aku pusing-pusing memikirkan menyediakan produk apa, beli stok dimana, sistematika proses salesnya seperti apa, semua tinggal klik! klik! klik! ah begitulah teknologi benar-benar memudahkan beberapa pekerjaan kita.

Gerobak subuh menjadi perhatian khususku, mengapa? 

Tanpa sengaja kemarin sore aku berjumpa dengan mbak penjual sayur matang yang membawa gerobak subuh di pasar, rupanya mbak Inah (nama panggilannya) baru saja selesai membeli bahan-bahan mentahan untuk dimasak nanti malam dan besoknya dijual.

"Mbak baru belanja ya? sendirian saja?" sapaku dengan ramah sambil mendekatinya, terlihat  kantong plastik besar di kedua tangannya.

"Iya, ini baru selesai, saya sama mas Anto bu, itu menunggu di tempat kelapa parut sedang mengantri" jawab mbak Inah tak kalah ramahnya.

"Waah banyak juga belanjaannya mbak, setiap hari belanjaannya mbak?" lanjutku bertanya

"Iya kebetulan untuk stok 2 hari bu, lumayan ini modalnya bisa 300rb" jawabnya, padahal aku juga tidak bertanya berapa banyak yang yang dia belanjakan.  Jawaban mbak Inah membawaku ke sebuah pertanyaan yang spontan terlontar :

"Sehari-harinya untung berapa mbak jualan sayur matang dari subuh?"

"ndaaak tentu bu", jawab mbak Inah dengan logat bahasa Jawa yang kental.

"kadang untung 50rb, kadang untung 100rb bahkan pernah hanya pas-pasan kembali modal bu" pernah rugi juga, namanya juga jualan bu, disyukuri saja masih ada pekerjaan"

nyeees, hatiku rasanya disiram air dingin.. (Syukur, sungguh kata bijak yang kuterima dari mbak Inah)

Gerobak subuh memberikan sebuah pembelajaran bermakna buatku, aku harus lebih banyak bersyukur (malu rasanya belakangan ini banyak mengeluh!)

"bagaimana tidak? "

Dengan modal yang kurang lebih sama, aku tidak perlu ke pasar, membeli bahan-bahan, membersihakannya, melakukan proses memasak hingga menata di wadah dan mendorongnya di atas gerobak, bahkan aku tidak harus berjam-jam melayani orang yang membeli, dengan mengemas atau membungkusnya terlebih dahulu, dengan keuntungan rata-rata 100 ribu, ach aku masih saja kemarin mengeluh! (malu rasanya)

Aku hanya bermodalkan hp, sharing link toko onlineku, sesekali memilih produk yang mau aku tawarkan untuk dipasang di beranda toko, aku tidak melewati proses yang panjang seperti mbak Inah, tapi bisa-bisanya aku berkeluh kesah (astaghfirullah).

Apakah ini akibat kemudahan teknologi sehingga proses menjadi sesuatu yang langka? aku berpikir bahwa  penghargaan terhadap sebuah proses dalam meraih sesuatu harusnya tetap ada, bahkan dijadikan nilai baik yang harus dikembangkan hingga generasi kapan pun.  Daya juang akan terbentuk menjadi sebuah pribadi yang tangguh dan kuat, bukankah demikian? dan yang tak kalah penting adalah sikap Syukur yang tumbuh dari sebuah proses panjang yang bernama perjuangan.


Jumat, 01 Maret 2024

Masalahku besar, tapi aku punya Alloh yang Maha Besar! maka aku tenang (Part 2)

 Part 2

Setelah sempat mengalami "percakapan" dengan diri, akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa tidak peduli berapapun usia, jika kita mengalami sebuah perubahan besar dalam kehidupan, tetap saja kita  memerlukan waktu untuk berhenti sejenak, berpikir ulang dan mencari jawaban atas apa yang terjadi.

Beruntung aku mengalami perubahan besar yang kesekian kalinya di fase 50 tahunan, sebuah usia yang boleh dibilang sudah matang untuk berbagai keputusan, walaupun realitanya tidak demikian juga.  Masih juga sesekali mengambil keputusan yang tidak tepat dan salah, it's ok, that fine! .. karena sejatinya kita bukan manusia sempurna, melakukan kesalahan bukan karena disengaja dan bertujuan akan diperbaiki, itu lebih baik daripada kita sama sekali tidak melakukan apa-apa, selama kesalahan itu bukan hal yang fatal ya, misalnya melanggar aturan atau norma atau etika, nah itu tidak boleh.

Berada di usia 50 tahunan, juga memberikan keuntungan tersendiri, kenapa ? karena ada banyak pengalaman yang bisa dijadikan cermin, jika baik kita bercermin pada keadaan yang sebelumnya pernah berhasil kita lewati maka kita bisa gunakan kembali, jika pun tidak, kita pernah punya pengalaman tidak enaknya yang bisa kita jadikan catatan agar tidak kita ulangi lagi untuk ke sekian kalinya.

Seperti halnya yang baru saja terjadi, tiba-tiba aku resign dari pekerjaan yang bisa dibilang antara direncanakan  dan tidak, intinya aku dalam kondisi dibeberapa sisi belum siap namun kenyataannya aku sudah berhenti, aku bersyukur karena tetap berada dalam suasana tenang untuk menerima kondisi ini karena yakin ada Alloh Subhanahuwata'ala yang pastinya mengetahui apa yang kualami, aku memiliki tambahan keyakinan untuk mengandalkan-Nya, masalahku besar? ya.. tapi aku punya Alloh yang Maha Besar, maka aku tenang.

Ketenangan itu membawaku untuk melihat lebih jernih pada solusi bukan pada masalah yang sedang kuhadapi, aku diberikan ketenangan untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan positif ke dalam diri, seperti :

1. Apa yang bisa aku lakukan sekarang ? aku memiliki modal waktu 24 jam, apa saja yang bisa kukerjakan?

2. Adakah contoh atau panduan yang bisa ku ATM? (Aku hanya perlu Amati, Tiru dan Modifikasi)

3. Kapan harus aku mulai? apa alasan kuat yang mendorongku untuk memulai?

Dari ketiga pertanyaan tersebut, aku memiliki "perjalanan" tersendiri, dan akan aku ceritakan satu demi satu, namun sebelumnya aku ingin sampaikan bahwa saat aku menulis ini, aku merasakan seperti sedang memulai sebuah lembar baru dalam perjalanan hidupku yang entah berapa lama lagi yang telah disiapkan dalam takdir catatan kehidupanku yang telah diatur begitu sempurna oleh Sang pemiliknya yaitu Alloh Subhanahuawata'ala.  Yang sedang aku coba lakukan adalah memulai lembaran akhir dengan harapan ending yang baik dambaan setiap orang yaitu husnul khotimah.

(Menjawab pertanyaan no 1) 24 jam yang merupakan modal waktu yang sebenarnya diberikan sama kepada setiap orang, aku menganggapnya sebagai modal awal dan utama yang sangat berharga, kenapa ? karena waktu tidak akan pernah dapat terulang lagi meskipun hanya seper sekian detik, maka itu menjadi sangat berharga.  Yang aku lakukan adalah mencoba membuat maping kegiatan harian dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, apa saja yang kulakukan, aku menuliskan dengan detail, seperti ini kira-kira : 




(Menjawab pertanyaan no 2) Aku salut dengan perkembangan sosial media dan kemampuan anak-anak generasi saat ini (Gen Z) yang sangat mahir menggunakannya dan mereka sangat pintar membuat konten (dengan catatan anak muda yang positif vibes tentu saja) dan ini aku lakukan ATM (Amati-Tiru dan Modifikasi) secara aku tuh masuk ke kategori Generasi yang tidak terlalu mahir menggunakan tekhnologi (tidak semua sih, banyak juga yang canggih menggunakannya) hanya saja aku mau belajar dan mencoba, dan batasan umur untuk belajar tidak berpengaruh banyak.  berhari-hari aku coba amati, aku cari yang terbaik menurut versi-ku (yang cocok untukku maksudnya) kemudian aku ambil hal-hal yang baiknya untuk aku tiru (dalam beberapa hal baik, yang tua meniru yang muda ternyata perlu juga) nah kemudian aku modifikasi (lebih tepatnya, disesuaikan dengan umur) karena tidak semua yang kita amati perlu kita tiru!

(Menjawab pertanyaan no 3) Sebagaimana disampaikan sebelumnya bahwa aku memiliki harapan agar ending kehidupanku berakhir dengan baik, husnul khotimah, maka aku merasakan bahwa kebutuhanku untuk memulai sangat mendesak, saat ini juga! (secara umurku sekarang saja sudah 52 tahun 4 bulan) dan aku mau memilih yang baik, bukankah hidup ini pilihan, dan sebagai manusia yang menyadari bahwa ada "batas waktu" maka dengan bulat aku memutuskan ingin memilih yang baik!





Rabu, 28 Februari 2024

52 Tahun 4 bulan, Apa yang bisa dilakukan olehku? (Part 1)

Part 1

Tidak seperti hari biasanya, dimana aku dalam rutinitas yang padat, kali ini aku terlihat begitu santai, betulkah?..

Setelah memutuskan resign dari pekerjaan yang sudah 14,5 tahun bukan hal yang mudah menata ulang jadwal kegiatan yang sudah terlalu terbiasa kulakukan.

Awalnya aku merasa masih seperti hari kerja, bangun pagi dan bersiap untuk berangkat, namun setelah menyadari bahwa kini semua waktu,  bebas aku tentukan sendiri, aku pun mengambil langkah jeda sejenak.

Aku mengambil waktu untuk menyendiri, kebetulan memang aku tinggal bersama anak yang sudah beranjak dewasa, tentu anakku sudah memiliki dunia sendiri.

(Aku memutuskan ke luar rumah mencari coffee shop terdekat yang bisa kugunakan untuk "menjeda")

Duduk diantara keramaian yang tidak terlalu "berisik", aku memandangi sekelilingku, ada yang tengah berbincang dengan 2 atau tiga teman dalam satu meja, ada yang tengah menyendiri dengan tatapan serius memandangi laptop di depannya, ada juga yang tengah asyik membaca buku sambil menikmati secangkir coklat hangat.  Aku? .., aku beralih ke dalam diriku, ada yang sedang "bercakap-cakap" di dalam kepalaku.

Kesimpulan "percakapan" dengan diriku siang ini adalah aku harus punya kegiatan yang dilakukan, karena meskipun aku memutuskan resign, bukan berarti aku menyia-nyiakan waktu yang ada dan tidak melakukan apapun, bukankah aku sudah punya tujuan pada saat memutuskan berhenti?

"Apakah tujuanku berhenti untuk berpindah tempat dengan pekerjaan yang sama?"

"Apakah tujuanku berhenti untuk di rumah saja dan memiliki kegiatan yang bisa dilakukan di rumah?"

"Apakah tujuanku berhenti untuk memulai dari titik nol, merintis lagi pekerjaan atau karir baru?"

Sayangnya aku menemukan jawaban "tidak" untuk semua pertanyaan itu.  "Lalu apa tujuanku ?" .. 

Catatan untuk diriku sendiri :

Kadang tidak semua yang kita rencanakan terjadi persis seperti yang kita inginkan, bahkan bisa jadi, jauh dari yang kita bayangkan dan kenyataannya bisa saja terasa menyakitkan untuk diterima, namun dengan Iman yang kita miliki, bahwa Alloh Subhanahuwata'ala tidak akan menguji hamba-Nya kecuali sesuai dengan kesanggupannya.  

Teorinya ini mudah dan harusnya membuat hatiku tenang dengan janji Alloh tersebut, namun prakteknya aku memahami kemampuanku belum langsung di level tersebut, aku sempat merasakan bingung untuk memulai dari mana, aku merasa terlalu tua (saat ini usiaku 52 tahun 4 bulan) untuk memulai lagi sesuatu yang baru, tapi kemudian pertanyaan berikutnya muncul, "Kalau kamu tidak berkerja, terus bagaimana kamu membiayai hidupmu? kamu tidak punya tabungan, tidak punya dana cadangan apalagi aset kekayaan".

"Hmm.. iya, pertanyaan besarnya adalah : "Apa yang bisa dilakukan olehku?" (aku tidak memilih pertanyaan "Kenapa aku resign secepat ini ya?") 

(Masih duduk di coffee shop, kini pengunjungnya mulai berganti, ada sepasang remaja yang masing-masing membawa laptop memilih duduk tepat 3 meja di depanku, rupanya mereka tengah mengerjakan tugas sekolah sambil bersantai, kemudian tak berapa lama nampak sekelompok orang berseragam menuju lantai dua, sepertinya mereka akan mengadakan meeting kantor di sini).

Aku mulai mengeluarkan buku agenda yang aku beli di awal tahun, kebiasaan yang sudah kulakukan sejak belasan tahun, yaitu memiliki buku agenda (padahal sekarang kan aku sudah tidak bekerja ya?)

Hal yang kulakukan pertama adalah mulai menuliskan rencana awal diantaranya : 

1. Aku ingin membeli sebuah buku, membacanya dan mempraktekan isinya (ada buku yang sudah lama aku inginkan)

2. Aku ingin memulai olah raga yagn sesuai dengan kondisi fisikku (berhubung lututku mulai terasa sakit, mungkin jalan kaki pilihanku, aku memilih di rumah dipandu video)

3. Aku ingin melakukan pemeriksaan rutin mulai dari cek tensi darah, gula darah dan periksa gigi (ini adalah hal yang ingin kulakukan juga tapi selama ini waktunya terbatas)

4. Aku ingin memulai mengikuti kelas online (belum terpikir matang, sementara sih mungkin kelas memotret jadi cuan, kelas jualan online, kelas menulis dan kelas mengaji) agak random ya pilihan kursusku, he he entah tapi itu yang terlintas di kepalaku.

5. Aku ingin memulai komunikasi dengan beberapa orang yang kemungkinan memiliki peluang untuk melakukan kerjasama

Nah, sepertinya aku sudah mulai menemukan titik terang untuk memulai, tentu dengan diawali ucapan "Bismillah.." semua akan kuhadapi.

(Aku pulang dengan sedikit kelegaan setelah menyeruput sisa kopi gula aren kesukaanku dan suapan terakhir pisang bakar, bergegas kembali ke rumah)


Selasa, 22 Januari 2019

Kisah Ibu Tua dan Anak Kecil Berkaos Putih

Kemarin, aku berada di sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat di dekat tempat tinggalku, di sana penuh dengan orang-orang yang akan berobat, mulai dari bayi dalam gendongan sampai orang tua yang sudah lanjut usia, dari yang bisa berjalan sendiri hingga yang duduk di kursi roda, rata-rata dalam kondisi kurang sehat atau sedang sakit.   aku sengaja datang agak siang, berharap pengunjungnya sudah sedikit dibandingkan aku datang dari pagi, ternyata dugaanku salah karena datang semakin siang, pengunjung ternyata 3 kali lipat dibandingkan aku mengantri dari pagi.

Awalnya aku duduk mengambil bagian ujung dari kursi yang disediakan untuk para pasien, berharap tidak ikut dalam pecakapan-percakapan yang bersahutan tentang keluhan penyakit masing-masing, kupikir cukuplah berdiam diri dan memperhatikan saja sekelilingku.  Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku, saat petugas memanggil sebuah nama untuk mengantri diperiksa tinggi badan, berat badan dan diperiksa tekanan darahnya, sekali..dua kali sampai tiga kali dipanggil dengan suara petugas yang cukup memekakan telinga, berdirilah seorang ibu yang sudah tua dengan perlahan dan tertatih menyeret kakinya menuju petugas dan disampingnya berdiri juga berbarengan perempuan yang kupikir ini adalah anak perempuannya, dia tarik dengan kasar tangan ibunya, tanpa banyak membantu untuk membuat ibu tersebut bisa nyaman duduk menghadap petugas, sesekali kulihat tangan tua ibu tersebut mengais-ngais ujung sandalnya karena tidak masuk dengan tepat di kakinya,  aku memperhatikan bagaimana anaknya seakan tidak melihat atau tidak memperhatikan itu, hatiku bergetar, sedih tetibaan hadir diujung rasa, ingat ibuku yang telah tiada, melihat raut wajah tua ibu tersebut, aku menangis.  Tidak seharusnya seorang ibu dimanapun mendapatkan perlakuan yang demikian dari anak manapun di dunia ini.  Ibu adalah awal mula kehidupan seorang anak manusia lewat perjuangannya mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, ibu adalah lautan kasih sayang yang tiada bertepi, tempat dimana cintanya tiada pamrih.  ibu adalah satu-satunya tempat yang selalu menerima anaknya dalam keadaan apapun, ibu adalah yang tak akan pernah mampu kita balas budi baiknya pada kita, ibu adalah sumber kehidupan seorang anak bermula, ibu .. ah ibu.

Belum lepas sesak akan apa yang kusaksikan tentang seorang ibu tua, tiba-tiba dua orang anak kira-kira berusia masing-masing 5 tahun berlarian didekatku, awalnya biasa, mereka tertawa lepas, bercakap-cakap, lalu.. ada yang berbeda, seorang anak berkaos putih melemparkan botol bekas kemasan minuman ke arah temannya, tepat mengenai kening anak satunya lagi dengan keras, tanpa mengaduh, tanpa mengeluh, dia pungut kemasan itu lalu dia berikan lagi kepada anak yang tadi melemparnya dengan senyum!.. tak tega aku mendiamkan itu, perlahan kutegur anak yang bersikap kasar itu "sayang temanmu yaa, lihat dia bersikap baik padamu".. awalnya anak berkaos putih hanya menatap sesaat padaku lalu berlari mengejar lagi temannya tadi, dari jarak jauh kulihat dia tarik dengan keras dan paksa kedua lengan temannya sambil diputar, aduh aku betul-betul miris melihatnya, dan di sekitar anak itu ada ibu mereka masing-masing yang melihat dan mendiamkan saja hal tersebut.  sampai akhirnya anak yang tangannya ditarik merintih kesakitan, aku melihat anak berkaos putih itu ditarik dengan kasar oleh perempuan yang ku duga itu adalah mamanya, tanpa tedeng aling-aling ibu tersebut menjambak dan mencubiti anak kecil berkaos putih hingga terduduk paksa di hadapan ibu tersebut sambil meringis kesakitan dan minta berhenti agar tidak dicubit lagi, entah apa yang merasuki pikiran ibu tersebut meskipun anaknya sudah seperti itu sesekali tangan ibu tersebut masih mencubit anak berkaos putih.  Wahai ibu, tidak bisakah memberitahukan kesalahan anak dengan berbicara saja? tak perlu dengan berlaku keras menyakitinya dengan jambakan dan cubitan berkali-kali, lupakah dia adalah anak yang engkau lahirkan dengan susah payah? lupakah dia adalah buah kasih sayangmu bu? lupakah dia adalah amanah titipan Alloh?..

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...