Rabu, 20 Maret 2024

Titik temu terindah

Untuk ke sekian kalinya kuhamparkan sajadah sambil menahan kantuk, padahal air wudhu cukup dingin namun tak juga membangunkan seutuhnya!

Yaa Rabb, .. bantu aku untuk terkoneksi dengan-Mu, pintaku lirih, entah karena sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan ditengah himpitan rasa di dada yang terasa begitu penuh.  berdiri tegak menghadap kiblat sejenak kuniatkan untuk menghadap-Nya dengan "utuh" (berharap kali ini sungguh bisa khusyuk).

Kuselesaikan menghadap-Nya dengan segenap hati berharap ini menjadi moment yang seringkali hanya bisa kudengar atau hanya sekedar membaca di cerita bagaimana seseorang hamba menikmati kedekatan dengan Sang Khalik dalam ibadahnya, aku iri pada yang mengalaminya!

Tetiba dalam kejadian duduk ternyamanku, aku merasakan ada sebuah jeda, riuh di kepalaku berhenti! mulutku tertutup rapat bahkan tak sanggup meski hanya berbisik lirih, mataku.. yafss, mataku! sesuatu yang hangat meleleh di kedua pipiku, basah! aku menangis.

Lalu, perlahan aku mendengar suara di hatiku,.. terbata, mengeja, sesenggukakan..berhenti sejenak, tak ada kata-kata, hanya air mata yang semakin deras mengalir tanpa mampu kutahankan, aku menangis, terus.. menangis lagi.

"Yaa Rabb, aku datang, "..

"Hamba datang Yaa Rabb, hamba datang" .. (terus berulang dengan kalimat yang sama tanpa sanggup berpikir, untuk apa aku katakan itu) seakan aku ingin menumpahkan kerinduanku untuk bisa terhubung dengan-Nya dalam waktu yang sudah sangat lama.

Tak terpikir kalimat-kalimat panjang yang tadi ingin kusampaikan, ingin kuadukan kepada-Nya, seakan protesku kenapa begini? kenapa begitu? .. pantaskah aku seperti itu, sementara begitu merasakan momentnya datang, aku justru merasa sungguh malu.  Aku malu membawa raga yang lelah ini karena kebodohanku sendiri memilih jalan yang salah, terus menjauh dan menjauh, padahal Dia begitu dekat.  Aku malu mengatakan apapun karena tahu sesungguhnya Dia Maha Tahu!

"Yaa Rabb, kemana saja aku selama ini?".. (aku malah bertanya kepada diri sendiri, dan aku sungguh tahu jawabannya).

Dalam hening menjelang dini hari, aku memilih tidak bicara lagi tentang diri, tentang hatiku, tentang masalah, tentang ini dan tentang itu.. aku memilih diam, menjeda, menikmati saja!

Seperti mabuk kerinduan yang akhirnya tersampaikan, hanya bisa meng-eja namanya dalam hati..

"Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Alloh ...

"Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Alloh ...

"Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Alloh ...

Aku pasti sungguh ingin lagi, merindu lagi, mau lagi, kembali terus ke titik ini, semoga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...