Jumat, 15 Maret 2024

Belajar Syukur dari Gerobak Subuh!

Kreeeek...krek, krek, gubraakkk, grudug...grudug, grudug!

Berulang- ulang aku mendengar gerobak melewati depan rumahku, sesekali rodanya bertabrakan dengan polisi tidur yang jaraknya dekat,  saat mataku masih menahan kantuk sambil melirik jam di dinding menunjukkan pukul 05.00, aku memang tidak sedang tidur, karena sudah bangun beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang di masjid dekat rumah.  

Kejadian ini bukan yang pertama, bahkan kalau kuingat-ingat rasanya sejak aku pindah menempati rumah di komplek ini, gerobak yang melewati depan rumah subuh hari memang sudah ada.  

Namun, pagi ini terasa berbeda! 

Aku baru saja membuka toko online dengan bermodal 300rb kurang lebih sudah bisa memiliki toko on line lengkap dengan support sistemnya tanpa aku pusing-pusing memikirkan menyediakan produk apa, beli stok dimana, sistematika proses salesnya seperti apa, semua tinggal klik! klik! klik! ah begitulah teknologi benar-benar memudahkan beberapa pekerjaan kita.

Gerobak subuh menjadi perhatian khususku, mengapa? 

Tanpa sengaja kemarin sore aku berjumpa dengan mbak penjual sayur matang yang membawa gerobak subuh di pasar, rupanya mbak Inah (nama panggilannya) baru saja selesai membeli bahan-bahan mentahan untuk dimasak nanti malam dan besoknya dijual.

"Mbak baru belanja ya? sendirian saja?" sapaku dengan ramah sambil mendekatinya, terlihat  kantong plastik besar di kedua tangannya.

"Iya, ini baru selesai, saya sama mas Anto bu, itu menunggu di tempat kelapa parut sedang mengantri" jawab mbak Inah tak kalah ramahnya.

"Waah banyak juga belanjaannya mbak, setiap hari belanjaannya mbak?" lanjutku bertanya

"Iya kebetulan untuk stok 2 hari bu, lumayan ini modalnya bisa 300rb" jawabnya, padahal aku juga tidak bertanya berapa banyak yang yang dia belanjakan.  Jawaban mbak Inah membawaku ke sebuah pertanyaan yang spontan terlontar :

"Sehari-harinya untung berapa mbak jualan sayur matang dari subuh?"

"ndaaak tentu bu", jawab mbak Inah dengan logat bahasa Jawa yang kental.

"kadang untung 50rb, kadang untung 100rb bahkan pernah hanya pas-pasan kembali modal bu" pernah rugi juga, namanya juga jualan bu, disyukuri saja masih ada pekerjaan"

nyeees, hatiku rasanya disiram air dingin.. (Syukur, sungguh kata bijak yang kuterima dari mbak Inah)

Gerobak subuh memberikan sebuah pembelajaran bermakna buatku, aku harus lebih banyak bersyukur (malu rasanya belakangan ini banyak mengeluh!)

"bagaimana tidak? "

Dengan modal yang kurang lebih sama, aku tidak perlu ke pasar, membeli bahan-bahan, membersihakannya, melakukan proses memasak hingga menata di wadah dan mendorongnya di atas gerobak, bahkan aku tidak harus berjam-jam melayani orang yang membeli, dengan mengemas atau membungkusnya terlebih dahulu, dengan keuntungan rata-rata 100 ribu, ach aku masih saja kemarin mengeluh! (malu rasanya)

Aku hanya bermodalkan hp, sharing link toko onlineku, sesekali memilih produk yang mau aku tawarkan untuk dipasang di beranda toko, aku tidak melewati proses yang panjang seperti mbak Inah, tapi bisa-bisanya aku berkeluh kesah (astaghfirullah).

Apakah ini akibat kemudahan teknologi sehingga proses menjadi sesuatu yang langka? aku berpikir bahwa  penghargaan terhadap sebuah proses dalam meraih sesuatu harusnya tetap ada, bahkan dijadikan nilai baik yang harus dikembangkan hingga generasi kapan pun.  Daya juang akan terbentuk menjadi sebuah pribadi yang tangguh dan kuat, bukankah demikian? dan yang tak kalah penting adalah sikap Syukur yang tumbuh dari sebuah proses panjang yang bernama perjuangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...