Minggu, 27 September 2015

Aku Tentang Hujan


Hujan…
Aku pasti punya banyak kosakata maupun perumpamaan  untuk mewakilimu, kenapa?  Karena aku akan selalu jatuh hati padamu.  Pada rinaimu, pada  kesejukan yang kamu munculkan, pada kehijauan dedaunan yang terkena jatuhmu, pada wangi tetanah basah yang kena curahanmu bahkan pada titik embun di kaca jendela selepas kedatanganmu ach hujan… tidakkah itu menggambarkan betapa besar aku terpikat padamu?

Hujan…
Padamu aku pernah punya harapan, padamu aku pernah bercerita, padamu aku pernah berkesah, padamu aku patah. Hujan, tak ada sahabat sedekat ini seperti aku dan kamu, tak ada rahasia,  tak berani bersembunyi bahkan engkau menjadi tempat kembali ketika diri terasa begitu sendiri, sepi.

Hujan…
Aku cemburu pada senja yang bergayut manja dan menghadirkan pelangi selepas kepergianmu, tak adil begitu berwarna padahal aku bersedih kehilanganmu ach hujan… mengapa rinduku begitu pekat padamu? Mengapa rasaku begitu terikat padamu?

Hujan…
Aku dan waktu bersekongkol untuk tetap menyayangimu, menyimpanmu selalu dalam tempat terbaik diingatanku, tidakkah ini menggila? Jatuh hati berkali-kali padamu, hujan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...