Sabtu, 04 Mei 2024

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yang aku rasakan mendadak di siang ini.  Selain sakit yang kurasakan, aku mulai merasakan kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh saat berdiri apalagi dibawa berjalan, tertatih perlahan bahkan keluar keringat dingin dan ada ketidaknyamanan saat bergerak, Yaa Alloh, mengapa saat sehat aku menganggap bahwa bangun dari duduk, bahwa duduk bersimpuh, bahwa berdiri dan berjalan itu sesuatu yang biasa saja ?

Sungguh pembelajaran yang luar biasa yang kudapat diusia setua ini, betapa sedikitnya rasa syukur yang aku miliki padahal betapa banyak nikmat-nikmat yang sudah Alloh berikan untukku, astagfirulahaladziim, ampuni aku Yaa Rabb.

Hari itu aku dijadwalkan untuk sessi diskusi di sebuah lembaga sekolah yang cukup jauh jaraknya dari tempat tinggalku, kira-kira 2 jam perjalanan untuk sampai disana.  Entah karena aku terlalu terburu-buru saat akan turun dari mobil sehingga saat kakiku menjejak tiba-tiba kaku dan sakit saat akan digunakan untuk melangkah atau mungkin ada otot yang terkilir ach aku tidak yakin apa sebabnya, yang aku rasakan aku diserang rasa panik, berdiri di antara mobil- mobil yg terparkir tidak bisa melangkahkan kaki, aku bingung, sakit dan sedih.

Selang beberapa menit akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta tolong seorang mbak yang baik hati untuk membantu memapahku ke tepi mencari area duduk sejenak untuk menenangkan diri, dan berpikir apa yang harus aku lakukan?  aku sempat terpikir untuk kembali saja ke rumah namun aku juga teringat janji yang sudah kubuat dan membayangkan beberapa yang sudah hadir akan kecewa jika aku membatalkan hadir, akhirnya aku memutuskan untuk memberi kabar terlebih dahulu bahwa kemungkinannya akan terlambat beberapa menit karena kondisi yang diluar rencana.

Setelah 30 menit akhirnya aku memaksakan diri setengah menyeret kakiku yang sakit berjalan menuju terminal untuk melanjutkan perjalanan dengan bis berikutya, yang biasanya begitu mudah kulakukan berjalan  dengan kecepatan kaki tanpa berpikir, kini ?.. ach, rasanya 200 meter itu rasanya sangat jauuh.  dengan peluh mengucur aku pun bisa duduk di dalam bis, sambil meringis memegang dan mengusap-usap lututku yang sakit, selama ini aku tidak pernah berpikir akan sesulit ini saat nikmat sehat lutut dikurangi,  Astagfirullhaladziim, ampuni hamba yaa Alloh, aku sangat kurang bersyukur selama ini.

Hampir sepekan aku merasakan nyeri di lututku, perlahan mulai berkurang sakitnya meskipun belum kembali pulih seutuhnya, namun yang terjadi dalam diriku cukup banyak setelah peristiwa ini, aku mulai mengingat-ngingat saat kapan saja aku begitu terbantu dengan sehatnya lututku dan alhasil aku malah jadi banyak penyesalan, karena akhirnya menyadari ternyata selama ini yang dianggap biasa itu semua adalah nikmat dan karunia yang luar biasa, bahkan, alih-alih mempertanyakan "mengapa lututku sakit?" aku lebih memilih mensyukuri bahwa lututku yang satunya sehat, alhamdulllah.

Aku seperti diingatkan betapa sayang-Nya Alloh padaku, aku jadi punya banyak hal yang harus kusyukuri, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, alhamdulilah terimakasih Alloh, kepalaku, otakku, masih bekerja sesuai fungsinya, aku sendiri tak akan sanggup untuk sekedar menyebutkan bagian-bagiannya sekalipun, apalagi memfungsinya dengan sesempurna itu, Allohu akbar.

Alhamdulllah terimakasih Alloh, mataku masih bisa melihat, masih bisa berkedip, masih bisa mengeluarkan air mata, hidungku masih bisa menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, mulutku masih berfungsi dengan baik, tidak ada gigi yang sakit, lidahku masih merasakan banyak rasa, masih bisa berbicara dengan artikulasi yang jelas, masih bisa mengunyah makanan, telingaku masih bisa mendengar, bahkan air  masih bisa kuminum dengan normal sementara banyak yang untuk minum pun harus menggunakan alat bantu seperti selang.  Apa lagi yang kurang?

Belum lagi tangan, jantung, paru-paru, ginjal, limpa, lambung, usus besar, usus halus,  usus buntu, alat pembuangan, kaki, daging, kulit, tulang,  otot, urat syaraf, pori-pori, sel, alhamdulllah, Masya Alloh, nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Lututku masih nyeri,  namun jika mengingat kenikmatan lain yang dititipkan, rasanya malu, mestinya aku lebih memperbanyak syukurku daripada keluh kesahku.


Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...