Selasa, 30 April 2024

Kehilangan

Suasana sore yang mendung, hujan nampaknya akan segera turun..

Aku selalu merasakan sisi kesejukan yang dihadirkan seiring  gerimis, bahkan hanya hadir dalam perasaanku namun juga sejuk di pandangan menyaksikan air hujan jatuh di ujung pohon, tanaman serta dedaunan yang ikut bergerak-gerak seakan menari turunnya berkah yang turun dari langit.

Kali ini aku bukan ingin bercerita tentang hujan, aku ingin menyampaikan beberapa hal yang melintas di pikiran.  

Salah satunya tentang aktivitasku belakangan ini, entah apakah karena faktor kesibukan pekerjaan formal yang berkurang, atau karena sudah memasuki kepala 50 tahunan, entah  mana yang paling mempengaruhiku karena kuingat-ingat ketika aku masih bekerja dan usianya 40 tahunan, rasanya belum berpikir se-intens ini tentang meniti jalan.

Baiklah aku mulai dengan kerandoman yang terpikirkan, salah satunya aku mulai merasakan "Kehilangan" yang tidak benar-benar hilang, maksudnya bagaimana ? .. Jadi belum lama ini aku baru saja menikahkan putriku, setelah menikah ternyata mereka tinggal beda kabupaten jarak tempuh kira-kira satu jam, tidak terlalu jauh memang tapi artinya tidak tinggal serumah lagi denganku, aku faham selain karena anak perempuanku patuh pada suami, tempat tinggal mereka pun lebih memudahkan untuk akses ke kantor mereka, dan yang tak kalah penting adalah bahwa anak perempuanku kini bertambah anggota keluarganya, ada mertua, kakak ipar dan keponakan, ini pastinya hal baru bagi anak bungsuku, semoga dia beradaftasi dengan baik, aamiin.

Adapun yang kumaksud dengan "Kehilangan" yang tidak benar-benar hilang, dari satu peristiwa ini dari sisi seorang ibu ternyata sekarang aku bisa memahami dan merasakan yang dulu dirasakan ibuku, dulu ketika sepekan selesai resepsi pernikahanku, aku dan suamiku saat itu dengan perasaan sumringah ingin segera meninggalkan rumah orang tua walau pun waktu itu yang akan kutempati masih rumah kontrakan, namun rasa bahagia itu terlalu jelas untuk disembunyikan ach .. menyesal rasanya jika aku mengingat itu, harusnya aku menahan diri untuk bergembira andai kutahu bagaimana perasaan orang tua khusunya seorang ibu yang akan ditinggalkan anak yang telah berada dalam kandungannya sembilan bulan, beribu hari dia rawat, dia asuh dan dirawat dengan segenap jiwa raga lalu tiba saatnya pergi, ach .. ibu, maafkan aku, kini aku faham dan mengerti apa yang terjadi.

Meski saat itu aku tidak melihat tangisan ibu, tapi sudut matanya yang basah dan kilasan sedih hadir saat itu, sekali lagi, aku ingin meminta maaf pada ibu yang bahkan jasadnya pun tak bisa peluk lagi.

Sementara yang aku lakukan ?

Belum genap sehari anak perempuanku pindah ke rumah mertuanya, aku tak dapat menahan air mata yang menetes perlahan setiap kali memandang isi kamarnya, padahal hari-hari sebelumnya pun dia lebih banyak di kos-an agar lebih mudah ke kantornya, padahal biasanya pun hanya akhir pekan saja dia menempati kamarnya, tapi rasanya benar-benar berbeda.  Ada ruang kosong di sudut hatiku, aku kehilangan ..


Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...