Selasa, 22 Januari 2019

Kisah Ibu Tua dan Anak Kecil Berkaos Putih

Kemarin, aku berada di sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat di dekat tempat tinggalku, di sana penuh dengan orang-orang yang akan berobat, mulai dari bayi dalam gendongan sampai orang tua yang sudah lanjut usia, dari yang bisa berjalan sendiri hingga yang duduk di kursi roda, rata-rata dalam kondisi kurang sehat atau sedang sakit.   aku sengaja datang agak siang, berharap pengunjungnya sudah sedikit dibandingkan aku datang dari pagi, ternyata dugaanku salah karena datang semakin siang, pengunjung ternyata 3 kali lipat dibandingkan aku mengantri dari pagi.

Awalnya aku duduk mengambil bagian ujung dari kursi yang disediakan untuk para pasien, berharap tidak ikut dalam pecakapan-percakapan yang bersahutan tentang keluhan penyakit masing-masing, kupikir cukuplah berdiam diri dan memperhatikan saja sekelilingku.  Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku, saat petugas memanggil sebuah nama untuk mengantri diperiksa tinggi badan, berat badan dan diperiksa tekanan darahnya, sekali..dua kali sampai tiga kali dipanggil dengan suara petugas yang cukup memekakan telinga, berdirilah seorang ibu yang sudah tua dengan perlahan dan tertatih menyeret kakinya menuju petugas dan disampingnya berdiri juga berbarengan perempuan yang kupikir ini adalah anak perempuannya, dia tarik dengan kasar tangan ibunya, tanpa banyak membantu untuk membuat ibu tersebut bisa nyaman duduk menghadap petugas, sesekali kulihat tangan tua ibu tersebut mengais-ngais ujung sandalnya karena tidak masuk dengan tepat di kakinya,  aku memperhatikan bagaimana anaknya seakan tidak melihat atau tidak memperhatikan itu, hatiku bergetar, sedih tetibaan hadir diujung rasa, ingat ibuku yang telah tiada, melihat raut wajah tua ibu tersebut, aku menangis.  Tidak seharusnya seorang ibu dimanapun mendapatkan perlakuan yang demikian dari anak manapun di dunia ini.  Ibu adalah awal mula kehidupan seorang anak manusia lewat perjuangannya mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, ibu adalah lautan kasih sayang yang tiada bertepi, tempat dimana cintanya tiada pamrih.  ibu adalah satu-satunya tempat yang selalu menerima anaknya dalam keadaan apapun, ibu adalah yang tak akan pernah mampu kita balas budi baiknya pada kita, ibu adalah sumber kehidupan seorang anak bermula, ibu .. ah ibu.

Belum lepas sesak akan apa yang kusaksikan tentang seorang ibu tua, tiba-tiba dua orang anak kira-kira berusia masing-masing 5 tahun berlarian didekatku, awalnya biasa, mereka tertawa lepas, bercakap-cakap, lalu.. ada yang berbeda, seorang anak berkaos putih melemparkan botol bekas kemasan minuman ke arah temannya, tepat mengenai kening anak satunya lagi dengan keras, tanpa mengaduh, tanpa mengeluh, dia pungut kemasan itu lalu dia berikan lagi kepada anak yang tadi melemparnya dengan senyum!.. tak tega aku mendiamkan itu, perlahan kutegur anak yang bersikap kasar itu "sayang temanmu yaa, lihat dia bersikap baik padamu".. awalnya anak berkaos putih hanya menatap sesaat padaku lalu berlari mengejar lagi temannya tadi, dari jarak jauh kulihat dia tarik dengan keras dan paksa kedua lengan temannya sambil diputar, aduh aku betul-betul miris melihatnya, dan di sekitar anak itu ada ibu mereka masing-masing yang melihat dan mendiamkan saja hal tersebut.  sampai akhirnya anak yang tangannya ditarik merintih kesakitan, aku melihat anak berkaos putih itu ditarik dengan kasar oleh perempuan yang ku duga itu adalah mamanya, tanpa tedeng aling-aling ibu tersebut menjambak dan mencubiti anak kecil berkaos putih hingga terduduk paksa di hadapan ibu tersebut sambil meringis kesakitan dan minta berhenti agar tidak dicubit lagi, entah apa yang merasuki pikiran ibu tersebut meskipun anaknya sudah seperti itu sesekali tangan ibu tersebut masih mencubit anak berkaos putih.  Wahai ibu, tidak bisakah memberitahukan kesalahan anak dengan berbicara saja? tak perlu dengan berlaku keras menyakitinya dengan jambakan dan cubitan berkali-kali, lupakah dia adalah anak yang engkau lahirkan dengan susah payah? lupakah dia adalah buah kasih sayangmu bu? lupakah dia adalah amanah titipan Alloh?..

Nikmat mana lagi yang mampu kudustakan?

Ternyata, aku baru merasakan betapa menyenangkannya melakukan sholat saat lutut ini baik-baik saja, tidak terasa ngilu dan nyeri seperti yan...